Senin, 19 September 2016

Sebuah Catatan: Desember 2008

10 Desember 2008. 19:15 wib.
Hari di Jogja mulai berbalut oleh guyuran air langit. Dingin benar telah menjadi selimut kala hari tertutup gelap. Menusuk di antaraku tiap raga yang terasa. Kala matahari telah sembunyi dalam peraduan semua menjadi dingin. -Yogyakarta-

13 Desember 2008. 13:31 wib.
Waktu masih sama seperti yang biasanya, hanya saja mentari bersinar mulai sedikit demi sedikit, menampakkan wujud dunia dalam pernyataan yang nampak. Meski mendung kelabu masih terhampar tipis di luas langit Tuhan.
Ada sedikit kelegaan akan kabar seseorang meskipun ini juga masih terlihat seperti kabut tipis yang menyapu di lembah Sumbing-Sindoro. -Yogyakarta-

14 Desember 2008. 23:29 wib.
Entah apa ini sebuah tangis atau sebuah senyum kebahagiaan, tetapi satu kedamaian muncul semerbak terurai dari langit akan rintik hujan. Malam diketengahan ini hujan kembali membasuh Yogyakarta. Indah, damai, dan mengharukan. Aku merasakan itu.
Satu perasaan akan penantian seorang ‘kesempurnaan’ yang kini masih jauh berada di sana meluap, berkabar  di ruang angkasa hatiku. Do’a dan perasaan tulus tanpa syarat selalu tercurah untuknya, untuk kesehatan, untuk kebahagiaan, untuk kedamaian dan untuk kelegaan.
Satu ujian kembali telah terlewati sudah akannya. Harap ini akan menjadi akhir dari derita dan kembali dalam senyum kelegaan untuk semua.
Pertanyaan dalamnya hati senantiasa bersuara, kapan waktu akan membawa ku dalam pertemuan dan kebersamaan dengan ‘kesempurnaan’? -Yogyakarta-

16 Desember 2008. 06:46 wib.
Keindahan nyata kurasa diantara dunia atau dalamnya hati. Pagi yang bercahaya tipis mencoba membuka malam yang berkabut. Sejuk sepoi memberi aroma indah dalamnya nafas.
Kelembutan, ketenangan juga mengalun diantara nadi-nadi tubuh ini. Kedamaian akan kesempurnaan yang memberikan perasaan.
Kesehatan semoga selalu tercurah untukmu, kebahagian, kedamaian dan kelegaan akan senantiasa menjadi peneman hari-harimu. -Yogyakarta-

19 Desember 2008, 18:48 wib.
Terbit malam sudah. Taburan bintang hanya segelintir semerbak dilangit yang terhampar. Bayu tiada berhembus dalam tiupan. Daun tiada bergoyang dalam tarian. Sembunyi mereka di bawah selimut gelap ini hari. Entah dimana tempatnya yang ada dalam kepastian, semua terpampang antara iya dan tidak, tidak ada apa itu kepastian yang benar dalam pernyataan.
Diri yang coba menarikan pena hitam pun belum ada perubahan kearah yang lebih baik, lebih indah. Masih dalam hayal-hayal yang tiap hari atau tiap malam masih bergentayang dalam kebimbangan.
Do’a senantiasa tercurah untuk apa itu sebuah kesehatan, mereka yang jauh dari pandang mata, jauh dari jamah tangan. -Yogyakarta-

29 Desember 2008, 15:01 wib.
Kembali tanya menyeruak dalamnya hati. Mengepul diantara perasaan hati yang tiada menentu akan dunia sesama manusia.…. -Boyolali-

0 Comment:

Posting Komentar