3 Januari 2009, 09:01 wib.
Pagi telah bersinar tipis mentari. Dingin menusuk dalamnya raga. Menggigil dalam ringkuk tubuh berbalut lembar-lembar kain. Kepala dalam isi terasa dalam acak yang memusingkan.
Dua pekan kan berakhir sudah. Hari diantara kebersamaan rumah kan sebentar terganti. Aku harus kembali ke sana lagi. Rindu masih menyeruak dalam juta rasa. -BYL-
3 Januari 2009, 23:48 wib.
Hari telah membawa pada malam yang tenang. Hari telah menyembunyikan cahya mentari dalam peraduan. Dan hari telah kembali membawaku di Yogyakarta. Siang 13.30 langkah telah memijakkan kaki di tempat ini, Yogyakarta.
Semua masih terasa sama, belum ada besar yang mendorong akan satu perubahan yang indah. Akan lembaran kertas atau belah hati.
Satu do’a akan yang masih berusaha, semua akan kembali sehat, kembali dalam indah semua. Amin. -JOG-
7 Januari 2009, 19:23 wib.
Sisa guyuran langit masih nampak dalam pandangan mata dalam rasa indra. Bumi masih basah akan ribuan titik yang melanda, dan suara decap tepi-tepi tetes genthing masih menggema dalam hampa hati. Langit nampak suram jua. Daun pun kuyub bersama semilir sepoi. Dan sesekali cicit kelelawar terasa memekik bersama lirih suaranya.
Tujuh bulan berlalu sudah. Semuanya mengalir, semuanya berjalan meski ada beberapa hal tak terharap ikut dalam warnai langkah ini. Perasaan itu masih ada dan semakin tumuh dalam hati ini.rasa rindu yang menginginkan temu, rasa sepi yang mengharap untuk terus bicara, rasa hampa yang brmimpi untuk bisa saling memberi. Dalam kebersamaan, dalam harapku. -JOG-
8 Januari 2009, 17:45 wib.
Senja kembali dalam guyur rintik. Sesekali gelegar menyuara mengisi angkasa. Dunia nampak dalam remang, antara nampak dan gelap. Paduan suara rintik dan gelegar menjadikan sore makin dalam senyap suasana. Dedaunan mengatup dalam kedinginan.
Aku. Ada apa denganku magrib ini? Aku menatap kosong antara ribuan titik yang menghujam bumi. Memandang hari yang berubah dalam temaram cahaya. Aku rindu dengan dia yang kini jauh berada. Membekap rasaku dalam ketidaktahuan, dari apa yang terjadi akan dunia.
Diantara desah yang mendesah, diantara tengadah yang bermohon, dalam kebersamaan yang nyata. -JOG-
10 Januari 2009, 19:15 wib.
Magrib dengan lambat laun berangsur meninggalkan. Gelap dan suara isya’ ganti menggaung di jagad angkasa raya. Langit masih nampak kelabu, tanah masih nampak sedikit basah. Dedaunan menjadi pekat kelam tanpa cahaya yang menguyur. Dan hari serasa berhenti melihat apa yang terbaca.
Satu kerinduan membayang dalamnya hati, satu harapan menjadi asa akan jiwa. Bertemu dengan “kesempurnaan” dalam genggam tangan, dalam peluk raga, dan kedamaian kebersamaan.
Do’a terukir di dinding angkasa akan tubuh kecil kesempurnaan. -JOG-
12 Januari 2009, 18:56 wib.
Magrib membasuhku diantara rasa diam hati. Dalam berdiri tiga kali kembali tanpa menghias diri. Ada apa denganku? Ada apa dengan dunia? Ada apa dengan semua? Memandangku dalam kosong, duduk ku diam dalam layang angan.
Apa ada kata yang lebih mesra dari ketika kamu bilang, “aku sayang kamu”,? Apa ada rasa yang lebih mendamaikan dari pada ketika kurasakan rindu akanmu?
Satu do’a kembali terhatur diantara tiga raka’at, senyum bahagia semua. -JOG-
14 Januari 2009, 14:01 wib.
Siang telah berlanjut siang hari ini. Dalam perjalanan estafet waktu yang tak pernah sedetik dalam henti, atau sekejab tuk nikmati semua dalam ketidakterjagaan. Langit masih selalu berseliput kelabu meski sesekali cahya terang menembus pucat langit.
Aku merasa hari yang telah berlalu aneh dalam hitungan dua atau tiga. Kenapa, aku tidak tahu. Semua masih mengalir dalam selokan-selokan yang telah ada, tanpa bias aku membuat aliran sendiri dalam jalanku. Rasa tulus tanpa syarat teralir dalam nadi tubuh ini. -JOG-
Senin, 19 September 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 Comment:
Posting Komentar