Yogyakarta, Senin 27 Oktober 2014, 19:39. Hari telah terganti redupnya malam. Emas mega-mega telah luruh bersama gelapnya gulita. Panasnya kini tak seperti hari, suara tak pula seriuh tadi. Namun cerita-cerita yang mengisi disela makan siang tadi seakan masih sayup-sayup terngiang, bahkan terkadang seolah menyontak dalamnya hati.
Rasa tak percaya masih mengalun bersama terjaganya mata. Rasa haru seakan menyelimut didiamnya kalbu. 'Serius?' dan 'Mengapa?' seolah masih menjadi pertanyaan yang masih terus muncul.
Ada rasa sayang saat semua yang terbina menyisakan berkas-berkas kenangan. Ada rasa haru saat semua hal manis yang pernah dirasa bersama harus terakhiri dalam kesendirian lagi. Ada rasa pedih saat mereka yang tak tahu apa, pada saatnya tahu bahwa senyum-senyum itu hanyalah kepalsuan sementara.
Aku bukanlah siapa, hanya merasa sebagai orang biasa, merasa akan perihnya sebuah kata akhir. Pisah mungkin akan mempermudah kita membaca antara kata dengan kata, namun tanpa pisah kita juga masih bisa mengeja untuk melafazkannya pada dunia.
0 Comment:
Posting Komentar